Mental Wartawan Sejati

konflik jawa pos
Cover Buku 1 dan foto halaman terakhir buku 3 (Biografi Bahari). foto hasil repro buku.

Oleh : Purwadi

Bacaan Lainnya

Review Buku Konflik Jawa Pos Pasca Pecah Kongsi Dahlan Iskan vs Goenawan Mohamad (Buku 1)


KEBERANIAN penulis dalam menulis buku Konflik Jawa Pos Pasca Pecah Kongsi Dahlan Iskan vs Goenawan Mohamad, saya akui luar biasa. Kenekatan dan kegigihan penulis untuk menemui narasumber juga patut mendapat apresiasi. Itu menunjukkan mental wartawan sejati.

Misalnya, penulis menceritakan bagaimana dia berjuang harus mendapatkan konfirmasi dari tokoh sentral Dahlan Iskan. Meski DIS bergeming, tetap tidak mau memberikan komentar di hampir semua pertanyaan penulis. Termasuk, tidak mau menerima setumpuk daftar pertanyaan yang d!ajukan penulis.

“Tidak. Saya tidak mau menerimanya,” ujar DIS, ketika penulis menyodorkan pertanyaan. Ini berbeda dengan ketika penulis (Bahari) menggarap buku sebelumnya “Azrul Ananda D!puja dan D!cibir……..”. Pada buku ini DIS malah menanyakan kepada Bahari : “Kapan bukumu terbit,” tanya DIS. Jawab Bahari: “Insya Allah, secepatnya Bos.”

Sampai lima kali penulis menemui DIS. Tetap saja DIS bergeming. Tidak mau komentar.  “Saya tidak butuh loyalis,” jawab DIS ketika penulis  (Bahari) menanyakan kenapa tidak melawan Goenawan Mohamad dkk.

Begitu juga untuk mendapatkan keterangan sekaligus konfirmasi ke Goenawan Mohamad. Tiga kali japri via WA. Kali ketiga baru mendapat jawaban Goenawan Mohamad/GM (Mas Goen)—tulis Bahari orang yang biasa menyapanya. Jawaban: intinya GM tidak mau d!wawancarai.

 “Maaf.  Saya sedang menyiapkan buku untuk pameran tunggal. Gak punya waktu,” jawab GM di WA Bahari.

Tidak Menyerah

Ternyata. Mas Bahari (penulis) tidak menyerah. Dia nekat dari Surabaya ke Jakarta. Mengejar GM tantangan tersendiri bagi penulis.  Meski d!tolak mentah-mentah dia tidak pasrah begitu saja. Jiwa ‘pejuang’ kewartawanannya luar biasa kuat.

Berbekal uang pinjaman dari keluarganya dia berangkat ke Jakarta. Pokoknya harus ketemu.  Jujukan pertama penulis gedung Salihara—kantor sekaligus tempat ngumpul pertunjukan para seniman dan budayawan di Jakarta.  

Hasilnya masih sama. GM tetap tidak mau d!wawancarai sebagai narasumber. Alasannya dia tidak mengetahui sengkarut dan konflik di Jawa Pos (Tulisan Detailnya di Buku 2).  Hanya satu kalimat ini jawaban GM “ Saya tidak tahu konflik di Jawa Pos.”

Menyerahkan Bahari? Dia tidak menyerah. Sampai kapan pun harus dapatkan komentar  GM. Momentum ini tidak boleh sia-siakan. “Saya harus dapatkan komentar Mas Goen. Mumpung ketemu. Saya jauh-jauh datang dari Surabaya,” papar Bahari dalam bukunya.

Serunya. Bahari sempat adu argumen dengan Nike—sekretaris Mas Goen. Nike banyak bertanya kepada Mas Bahari. Apa sudah janjian? Ada keperluan apa?  Dan masih banyak lagi pertanyaan. Intinya Nike tidak memperbolehkan Mas Bahari mewawancarai Mas Goen, jika tidak janjian sebelumnya.

Mas Bahari lah kadong datang. Dia pantang mundur selangkah pun. Dengan segala cara Mas Bahari menjelaskan ke Nike via telepon. Nike di bagian ruangan dalam gedung Salihara. Sedangkan Mas Bahari di pos keamanan/security bagian depan gedung. (Buku 2).

Pos terkait

Komentar ditutup.